in

Sepayung Berdua

Hari masih pagi. Namun, entah kenapa, awan kelabu sudah mulai bergerombol di langit—padahal, pembawa acara televisi bilang, “Berdasarkan laporan cuaca menurut BMKG, hari ini Kota Yogyakarta akan cerah berawan.” Memang, sih, berawan … tapi yang dimaksud ‘kan bukan awan kelabu. Tetapi—

BLAR! 

Sambaran petir menggelegar; mengacaukan lamunanku. Tak lama, disusul rintik air yang terjun bebas ke bumi. Bergegas, aku berteduh di teras ruko yang meskipun kecil, tetapi cukup digunakan untuk berteduh. Sial, aku lupa bawa payung. 

“Sial meneh,” desisku dengan senyum nelangsa, “hari ini ulangan.”

***

Sepuluh menit sudah aku menunggu. Namun, hilal reda belum terlihat. Saat kulirik jam tangan, senyum nelangsaku melebar; tinggal lima menit lagi bel berbunyi. 

Atau aku terobos saja?

Kemudian, aku melepas sepatu dan memasukkannya ke tas. Kaki kanan kumajukan, sedangkan kaki kiri kutarik mundur. Satu … dua …

“Juni, jangan!” Seseorang meneriakiku tatkala ancang-ancangku nyaris sempurna, “arep ngapa kowe?”

“Nerobos hujan,” kataku dengan cengir khas yang orang sebut ‘Cengjun’ alias cengiran Juni. 

Teman sekelasku itu mengembuskan napas panjang. “Kenapa enggak pakai payung atau jas hujan?”

“Ketinggalan, hehehe.”

Yo wes ….” Arjuna atau Juna—yang sering digadang-gadang sebagai pacarku (padahal aku tidak suka) karena nama kami hampir mirip— menyodorkan payungnya hitamnya, “Pakai ini.”

Sejenak, aku ternganga. “Buat apa?”

“Kalau otakmu enggak ketinggalan, Jun, ini biar kamu enggak kehujanan.” 

Wah, wah, pedas sekali mulutnya.

Aku menahan gelak. “Iya, tahu, tapi ini ‘kan payungmu. Kenapa dikasih ke aku?”

“Biar apa … ya? Biar ….” Juna menggaruk tengkuk, “Ya, pokoknya pakai aja!”

Aku pun menerima payung itu. Namun, satu pertanyaan menggangguku. “Terus kamu gimana?”

Aja dipikirke.”

Halah,” cibirku sembari menyikutnya, “njelei, sok kuat tenan.”

Lha, aku pancen kuat, kok.

Aku tergelak. Yo wes, ngene wae … gimana kalo kita ke sekolah bareng pake payung ini? Daripada dimarahi Bu Rifa, lho. Lagian, hari ini ulangan hariannya beliau ‘kan?”

Juna berpikir sejenak, lalu mengangguk. “Yo wes, aku manut.

“Tapi kamu yang bawa, ya?”

“Lho … lha yang butuh siapa?” Alis kiri Juna naik.

“Aku, sih.”

“Kamu, dong, yang bawa. Lha, kok, nyuruh aku.”

“Ini ‘kan payungmu.” 

“Alasan wae. Ayo cepat! Tak tinggal, lho.”

“Eh, sek … sek! Kamu enggak lepas sepatu dulu?” Aku menyetop langkahnya. Juna segera melepas sepatu dan memasukkannya ke tas seperti yang kulakukan tadi. 

“Udah?” tanyaku memastikan. Ia mengangguk.

“Ayo.”

“Ayo!” 

***

“Jun.”

“Hah?”

“Maaf, ya,” cicitku pelan ketika kami duduk di kursi depan toilet, “gara-gara berangkat sama aku, kamu jadi telat; pake acara disuruh nyikat WC lagi.”

Juna melirikku sebentar, lalu berujar, “Wes, jangan dipikirin. Itu bukan salahmu, kok.” Ia menghela napas, “Lagian, sebenernya ada untungnya juga dihukum nyikat WC.”

“Kok untung?” Kepalaku miring tiga puluh derajat.

“Soalnya aku lupa belum belajar!” Juna tergelak. Sejenak, mulutku menganga. Di kelas, ia memang sangat jarang berekspresi, tapi baru kali ini aku melihat wajahnya mengeluarkan ekspresi selain menatap malas. 

Senyumku mengembang tipis. 

“Eh, gimana nek nanti kita belajar bareng buat ulangan susulan?”

“Serius?” Aku membulatkan mata, “Boleh, boleh! Nanti pulang sekolah, aku ke rumahmu, ya!”

Juna mengangguk dengan jempol teracung.

Terjemahan (berdasarkan bahasa yang saya gunakan di Jogja):
Meneh = lagi
Arep = mau
Ngapa = ngapain
Kowe = kamu
Yo wes = yaudah
Aja = jangan
Dipikirke = dipikirkan
Halah = seperti meremehkan
Njelei = menjijikkan
Tenan = beneran
Pancen = memang
Ngene = begini
Wae = saja
Manut = ikut/menurut
Sek = sebentar
Nek = kalau

What do you think?

Written by kei

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Loading…

0

Membangun SDM Berkualitas demi Cita-Cita Indonesia Emas 2045

aku