in

Senyum Yang Berharga

            Suatu malam ditemani suara gemuruh jangkrik yang memenuhi telinga, Rani mengakhiri shalatnya dengan salam. Berbalik badan untuk mendapati anak-anak yang begitu antusias ingin mengecup punggung tangannya. Lantas Rani tersenyum tulus pada mereka dengan tangan kirinya mengusap kepala anak-anak yang dibalut kain suci.

            “Sebelum makan malam, kita berdoa dulu yuk buat Mama Sarah!” Begitu Rani mengajak anak-anak. Pun dengan semangat anak-anak mengangguk, “iya kak, supaya Mama ga sakit lagi.”

        Rani kembali tersenyum kemudian memulai berdoa lebih dulu.

            Rani bersyukur masih memiliki setidaknya satu anggota keluarga dihidupnya. Dari ia lahir, Rani sudah berada ditempat ini dimana Mama nya lah yang menjadi pemilik panti ini. Banyak anak-anak yang kurang beruntung dengan ditinggal wafat oleh orang tuanya dan ada pula yang lebih menyakitkan sebab terkadang masih ada orang tua yang memilih melepas tanggung jawabnya terhadap seorang anak.

        Tak bisa dipungkiri bahwa Rani pun merasa sedih ketika tahu fakta tersebut. Bahkan untuk membayangkan ia ada diposisi tersebut pun Rani tak bisa. Terlalu menyakitkan.

        Di usianya yang sudah menginjak 20 tahun, Rani merasa anak-anak di panti ini juga menjadi tanggung jawabnya. Terlebih saat ini Mama nya sudah rentan terkena penyakit. Maka dengan begitu Rani selalu menyempatkan waktu untuk bisa menemani anak-anak dengan segala hal yang bisa ia lakukan.

            Rani mengusap wajahnya dengan telapak tangan bersamaan dengan bibirnya yang menggumam kata “aamiin” tanpa mengeraskan suara. Dilihatnya anak-anak yang sudah mulai melepas mukena nya asal dan langsung berlari keluar ruangan membuat senyumnya kembali mengembang.

        Bukankah anak-anak begitu menggemaskan? Lantas apa alasan orang tua yang tega membuangnya?

        Mulai berdatangan anak-anak yang melakukan kewajibannya dengan shalat di masjid. Maka Rani pun segera melipat satu-satu mukena yang masih tergeletak asal.

        “Haidar!” Panggil Rani pada anak berusia 15 tahun itu yang baru saja melewati ruangan untuk shalat. “Tolong siapin makan buat anak-anak ya, nanti kakak nyusul selesai ini.”

        Haidar mengangguk dan tangannya mengacungkan ibu jarinya. “Siap kak!”

        Selesai dengan urusannya, Rani segera menyusul ke meja makan untuk menyiapkan makan. Rani hanya menggeleng kepala ketika matanya menangkap anak-anak yang sedang bermain lari-larian.

        “Siapin buat adik-adiknya dulu ya Ci,” ucap Rani setelah tiba dimeja makan. Suci pun tersenyum atas kedatangan Rani dan membalas ucapan Rani, “iya kak.”

        Rumah ini tidak pernah terasa sepi. Banyak sekali hal yang bisa membuatnya tersenyum atas tingkah mereka.

        Rani memerintah pada anak yang sudah cukup mandiri untuk menggantikan tugasnya dalam menyiapkan makanan. Mereka pun sudah mengerti karena Rani harus memberikan makan untuk Mama.

        Berjalanlah Rani kekamar Mama yang tangannya dipenuhi dengan sepiring nasi beserta lauk dan segelas air putih.

        Membuka pintu dengan sangat pelan, yang Rani dapati ialah Mama nya yang sedang tertidur. Maka dengan berhati-hati, Rani meletakkan makanan dan minumannya diatas nakas.

        “Ma,” Rani menguncang pelan tubuh Mama. “Ma, makan dulu ma. Ini udah Rani bawain makanannya.”

        Tak lama Mama membuka matanya membuat sudut bibir Rani mengangkat. “Rani suapin ya Ma?” Rani bertanya sembari membantu Mama untuk duduk bersandar pada sandaran kasur.

        “Enggak apa-apa. Mama bisa sendiri kok.”

        “Beneran?” tanya Rani yang masih meragukan Mama. “Rani suapin aja deh.”

        Mama menggeleng lemah dengan senyum yang begitu tipis bahkan tidak terlihat bahwa ia sedang tersenyum. “Gak apa-apa sayang, Mama bisa sendiri.”

        Walau masih ada keraguan, Rani menganggukkan kepalanya. “Yaudah nanti kalo Mama mau sholat panggil Rani aja ya,” Rani mencium pipi Mama dan pergi meninggalkan Mama seorang diri.

        Mama tersenyum dan menangis dalam diam

***

        Rasanya baru kemarin Rani banyak tersenyum. Namun dengan kilatnya waktu mengubah segalanya.

        Tangis pilu terdengar begitu keras dari berbagai orang. Sedu sedan terdengar memilukan. Sampai-sampai Rani satu satunya sosok yang tidak mengeluarkan setetes air mata. Rani yang menjadi sosok penguat bagi anak-anak yang kehilangan. Padahal semua pun tahu bahwa Rani lah yang seharusnya bersedih.

        Lantas jika ia ikut menangis, siapa yang jadi penguat anak-anak? Siapa yang akan menghentikan tangis mereka?

        Maka dengan besarnya kekuatan, Rani menahan diri untuk tidak menangis. Setidaknya tidak dihadapan anak-anak.

        Mama pergi. Ketempat yang lebih kekal. Ketempat yang sulit dijangkau. Meninggalkan Rani disini sendiri.

        Mulai saat ini, Rani juga bersatu dengan anak-anak. Saat ini ia memiliki label yang sama atas dirinya. Seorang anak yatim piatu.

        “Kak, Mama udah gak ada kak,” seseorang berkata lirih pada Rani yang melamun menatap makam Mama yang masih basah. Rani menoleh pada anak tersebut dan menghamburkan sebuah pelukan hangat. Membiarkan anak itu membasahi hijabnya dengan air mata. “Doain mama aja biar amal ibadahnya diterima sama Allah ya.”

        Anak itu mengangguk dalam peluknya. Rani melepaskan pelukannya dan mengusap lembut pipi anak itu untuk menghapus jejak air matanya. “Sekarang Ani gak boleh nangis ya! Ani harus kuat. Temenin Kakak buat gak nangis.”

        Sekali lagi, Ani mengangguk. Maka Rani tersenyum tipis dan mengusap lembat kepala Ani yang ditutupi dengan hijab.

        Rani bangkit dari duduknya, mengajak satu persatu anak panti untuk ikut berdiri. “Ayo sekarang kita pulang.”

        “Gak mau! Aku mau nemenin Mama!”

        “Kita harus pulang, sayang. Nanti kalau hujan gimana? Nanti kamu sakit terus Mama jadi sedih gimana? Kita pulang ya,” bujuk Rani dengan selembut mungkin. Untungnya dibantu dengan anak-anak yang sudah lebih mengerti.

        Sesampainya dirumah panti, Rani meninggalkan anak-anak dan para pelayat untuk menuju kamar. Kamar dimana Mama pergi meninggalkannya.

        Didalam kamar, Rani terduduk dilantai dengan tangan berada ditepi kasur. Sebelumnya Rani tidak pernah sekuat ini. Dalam masa sulit dan sedihnya Rani selalu bisa meluapkan kesedihannya dengan menangis. Tapi siang ini, Rani tidak tahu menjadi siapa dirinya.

        Sudah lelah menahan semuanya, biarlah dalam sendirinya ini Rani menangis sedu. Menggenggam kuat selimut untuk menahan suaranya. Sekelebat wangi tubuh Mama mengudara. Memasuki kamar ini adalah tindakan yang salah karena disinilah Rani kembali mengingat Mama nya.

        Dalam isak tangisnya, Rani memohon supaya Tuhan membangunkannya dari mimpi buruk ini. Rani berjanji tidak akan mau tidur lagi jika benar ini adalah mimpi buruknya.

        Namun semua nya hanya permintaan semata. Ini nyata. Dan Rani tidak tidur.

        Rani mencoba membuka lemari, mengambil salah satu baju Mama dan memeluknya erat. Maka dalam hitungan detik pula tangisan Rani kembali terdengar.

        “Maafin Rani ma!” teriaknya saat dirinya sudah berlutut sembari memeluk baju Mama. Terlalu banyak kenangan dirinya dengan Mama. Dan Rani merasa jahat sebab Rani belum bisa membayar semua kasih sayang Mama.

        Pintu tiba-tiba terbuka. Seseorang langsung berlari kepelukannya. “Rani jangan seperti ini.”

        Rani mengabaikan dan terus menangis tanpa henti. Rani sudah tidak bisa menahan semua nya. Rani perlu menangis.

        “Kamu sekarang boleh nangis sepuas kamu. Tapi terimakasih sudah menjadi kuat didepan anak-anak Ran. Aku salut sama kamu, mungkin kalau aku ada diposisi kamu aku gak akan sekuat itu.”

        Wanita itu melepas pelukannya, mengusap wajah Rani yang sudah mulai mengatur napasnya.

        “Senyum kamu itu berharga Ran. Senyum kamu berharga bagi anak-anak. Senyum kamu adalah penguat mereka. Mereka akan sedih kalau liat kamu sedih, begitu pula senyum kamu, dia akan turut bahagia atas senyum kamu. Kamu kuat Ran, aku yakin.”

        Aku pernah dengar dari seseorang, jika kamu punya seribu alasan untuk menangis maka kamu juga punya setidaknya satu alasan untuk tersenyum. Dan satu alasan itu berasal dari anak-anak panti yang juga butuh kamu.”

        Maka dengan kata yang menyentuh hatinya, Rani tersenyum dan kembali memeluk sahabatnya itu.

Bekasi, 4 September 2020

What do you think?

Written by IrFa

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

perlahan

Aku di Rumah