in

HadehHadeh

KRIMINALITAS REMAJA; KLITIH

Klitih (kli;tih) merupakan kegiatan mengisi waktu luang dengan berjalan-jalan di luar ruangan mencari udara segar. Namun sayang, istilah yang sebenarnya bermakna positif ini, kini justru populer sebagai bentuk deskripsi dari kegiatan kriminal yang biasa dilakukan oleh anak-anak usia kisaran 14 s.d. 19 tahun di Provinsi DIY. Kegiatan klitih biasanya terjadi di malam hingga dini hari, di tempat sepi yang jauh dari keramaian kota dan pemukiman warga. Pelaku klitih biasanya terdiri dari remaja dalam suatu kelompok yang ‘menguasai’ wilayah tertentu. Mereka akan menyerang kelompok lain yang mereka anggap mengganggu atau memasuki ‘wilayah’ mereka. Tak sedikit juga pelaku klitih yang hanya asal mencari korban. Tidak segan untuk membacok atau menclurit korban yang tidak mereka kenal dan tidak berlaku salah.

                Maraknya tindak klitih ini mengancam keamanan dan keselamatan tidak hanya warga, tetapi juga wisatawan yang datang. Sasaran klitih yang kini mulai bervariasi, jam klitih yang mulai menjadi lebih awal, serta banyaknya ‘tokoh baru’ dalam dunia perklitihan mengakibatkan banyaknya korban klitih yang terus meningkat. Para wisatawan yang menganggap malamnya Jogja sebagai kopi, angkringan, dan canda mungkin akan merasa ngeri bahwa Jogja yang mereka anggap damai itu juga mempunyai sisi buruknya sendiri. Begitulah kehidupan malam di Jogja, sisi terang dengan live music, angkringan, kopi hitam, percakapan hangat, atau temu pada yang sudah lama dirindu. Juga memiliki sisi hitam di sudut-sudut gelap kota yang ketika malam jarang terjamah manusia. Klitih hanyalah satu dari beberapanya. Klitih menjadi nightmare bagi warga lokal dan para mahasiswa rantau di Jogja. Banyak warga lokal yang bekerja di shift malam sehingga mereka harus berangkat kerja di malam hari, membuat cemas keluarga yang ditinggalkan di rumah. Atau mahasiswa yang kebetulan mengerjakan suatu tugas sehigga mengharuskan  mereka untuk pulang larut malam. Ya, menurut kalian saja, siapa sih yang tidak takut dibacok ditengah jalan?

                Para pelaku klitih biasanya akan mencari mangsa pada pukul 23.00 sampai 01.00 atau 03.00. mereka akan bersiap di Jalan RingRoad, Jalan Selokan Mataram, Jalan Jogja-Solo, jalan-jalan kabupaten, Jalan Kaliurang, daerah XT square, atau jalan dan derah sepi lainnya. Dengan bermodalkan senjata dari yang seadaanya seperi gir motor, balok katu, potongan besi, atau konblok hingga senjata betulan seperti arit, parang, dan celurit. Korban tindak klitih kebanyakan laki-laki namun korban perempuan juga tidak kalah banyak. Dari yang mendapat luka kecil sampai korban meninggal, semuanya dilakukan oleh para pelaku di bawah umur ini.

                Entah apa motivasi di balik setiap penyerangan itu. Beberapa pelaku mengaku menyerang para korban hanya karena hal-hal nyeleneh seperti, ditatap oleh korban, disalip saat berkendara, atau bahkan hanya karena disapa saat berpapasan di jalan. Analisis dari beberapa kejadian klitih di mana para pelaku mengatakan,bahwa mereka bisa saja menyerang korban karena perseteruan kelompok, salah sasaran, atau memang dibayar seseorang untuk mencelakai korban.

                Kita, sebagai warga biasa tentunya hanya bisa menghindari dan memberi edukasi di lingkungan sekitar. Beberapa tips yang saya dapat dari warga twitter untuk menghindari klitih di antaranya:

  • Jangan pergi keluar malam sendiri. Sebisa mungkin, jangan pernah pergi keluar saat malam hari sendirian. Apalagi, ketika tahu akan melintasi daerah-daerah rawan yang sudah saya sebutkan di atas.
  • Jika merasa diikuti oleh gerombolan orang, masuklah ke perkampungan atau berhenti di swalayan. Jika keadaan tidak memungkinkan, carilah bantuan.
  • Hindari daeah rawan. Cari daerah-daerah rawan dengan bertanya kepada masyarakat atau teman yang merupakan warga asli yang sudah tinggal lama di Jogja.
  • Berdoa. Jangan pernah menyepelekan kekuatan doa ya, bestie.

Klitih sangat ditentang oleh masyarakat Jogja. Tidak ada hal yang dapat memebenarkan perilaku kriminal mereka. Pemerintah terus berusaha mengurangi intensitas klitih dengan rutin melakukan sweeping di jalan-jalan sepi. Edukasi tentang pidana yang menjerat pelaku klitih rajin dilaksanakan di sekolah tingkat SMP-SMA sederajat. Namun, di tengah musim pandemi seperti sekarang ini, tindakan klitih justru semakin marak terjadi di masyarakat  sehingga mewajibkan kita untuk tetap selalu berhati-hati. Tidak ada salahnya kita bersikap hati-hati untuk menjaga diri sendiri. (J)

What do you think?

Written by jasss

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Catatan Bagus dan Aesthetic, Perlukah?

Organisasi di Masa Sekolah? Untung atau Buntung?