in

Definisi Pintar yang Berubah-Ubah

Madara Parma on Unsplash

Seperti apa sih para siswa mendefinisikan kata “pintar”? Juara kelas? Rajin bikin tugas? Terdepan mengikuti olimpiade? Sadar ngga sih kalau itu semua hanya sebatas prestasi akademik? Balik lagi, setiap orang memiliki sudut pandang yang berbeda dalam memahami konteks pintar. Apalagi para orang tua kita di rumah.

Nah lho? Mungkin di sini banyak yang dianggap belum ada apa-apanya kalau tidak menyandang gelar juara kelas. Bukan berarti itu kegoblokan yang hqq yaaa… Bukan. Tidak ada hubungannya sama sekali.

Lalu, bagaimana jika kamu dianggap bodoh sekarang? Sementara dulunya kamu adalah pribadi yang terdepan di bidang akademik? Adakah yang salah dalam dirimu? Seperti tweet yang muncul di akun @schfess berikut ini dan sayang kalau tidak diulik.

Kamu tidak gob***lok zeyeeeng… Hanya saja, zaman itu berubah. Ranking atau enggaknya dulu. Maju atau engganya sekarang, diri kita hanya lelah. Mungkin saja mereka yang mendapatkan ranking 1 dulunya, sekarang sudah merasa lelah untuk berpikir. Atau memang membutuhkan waktu yang lama untuk mencerna sesuatu yang saat ini kapasitasnya lebih luas?

But please, semua orang tidak ingin dipandang rendah oleh orang lain. Ini karena perjuangan mereka sampai di titik “pintar” itu memang hanya mereka yang mengetahuinya. Sesulit apapun itu, tidak semua orang yang melihat dan memperhatikannya.

Cobalah membangun perspektif baru yang benar-benar menyingkirkan spekulasi tersebut. Kecerdasan atau kepintaran akademik hanya memainkan sedikit peran. Selebihnya adalah bagaimana kamu berusaha untuk memastikan diri kamu pintar seiring dengan zamannya.

What do you think?

Written by Azmi Raudhatul

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

0

Momen Awkward Kala Ujian

Serba-Serbi MOS