in

MantapMantap LoveLove

Catatan Bagus dan Aesthetic, Perlukah?

“The only way to win is to learn faster than anyone else”, begitu kata Eric Ries. Kalau ngomongin soal “learn faster” atau “belajar lebih cepat” kita biasanya ngomongin soal gaya belajar, atau cara belajar yang baik. Setiap orang punya cara belajar dan gaya yang cocok buat mereka. Gaya yang cocok biasanya ditemukan dengan cara trial and error. Mencoba mencoba dan mencoba sampai ketemu yang cocok. Gaya belajar ini biasanya dibagi jadi 3, yaitu visual, auditorial dan kinestetik. Kali ini kita bakal ngomongin soal gaya belajar visual.

Biasanya orang dengan gaya belajar seperti ini lebih suka melihat/memakai visual dalam belajar. Seperti menonton video interaktif, membuat catatan yang bagus agar enak dilihat dan memakai banyak tools dalam catatannya. Ga sedikit juga catatan yang rapi dan aesthetic bersliweran di sosial media, apalagi sejak hadirnya komunitas studygram dan ambisverse. Ini sangat membantu dan menguntungkan mereka yang butuh dan mencari catatan yang rapi. Selain dipembacanya, para pembuat catatannya juga bisa melatih kreatifitas mereka sekaligus belajar. Namun, beberapa dari mereka yang kurang telaten dan sulit menulis catatan yang rapi, mereka merasa kurang relate dan merasa tidak bisa menulis catatan sebagus itu. Hal ini membuat salah satu warga @schfess di twitter merasa terpancing untuk mengirim menfessnya. Begini katanya. 

https://twitter.com/schfess/status/1426192923322851333?s=20

Ternyata setelah menfess itu diupload, banyak juga dari mereka yang ada di kolom komentar mencurahkan keresahan yang sama, begini kata mereka.

https://twitter.com/strawtaete/status/1426273222975127554?s=20https://twitter.com/cartthweel/status/1426196635466428427?s=20https://twitter.com/brikangg/status/1426193456762810387?s=20

https://twitter.com/cartthweel/status/1426196635466428427?s=20 

https://twitter.com/brikangg/status/1426193456762810387?s=20

Namun, dari sekian banyak reply, ada satu rep yang bikin writer tertarik, yaitu tweet ini

https://twitter.com/berprosess_/status/1426305811500785665?s=20

Kemudian writer jadi mikir, sebenernya perlu ga sih nyatat tulisan aesthetic itu? Apakah bakal membuang waktu atau malah justru efektif buat kita memahami materi?

Kalau menurut macam-macam gaya belajar itu sendiri, membuat catatan yang rapi dan menarik masuk ke dalam gaya belajar visual. Kalau masuk ke gaya belajar, dan banyak juga orang yang memakai, apakah bener bener efektif buat kita semua? Belum tentu.

Manusia itu sangat kompleks, termasuk juga otaknya. Kita semua punya cara kita masing-masing untuk belajar. Kalau kita tidak bisa membuat catatan sebaik teman kita, bukan berarti kita tidak belajar dengan baik. Kalau catatan kita tidak secantik dan seaesthetic teman-teman studygram, bukan berarti cara belajar kita salah. Setiap orang punya caranya masinng-masing. Kalau kata orang, jangan jadi ikan yang belajar manjat. Jangan jadi monyet yang belajar berenang. Kita semua unik dan punya cara tersendiri untuk belajar. Jadi, create yourself and find your own process to study!

What do you think?

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Loading…

0

Sebelum dan Sesudah Pandemi, Kita Bisa Ya Kayak Gitu?

KRIMINALITAS REMAJA; KLITIH