in

Aku Masih Bisa Memelukmu Tadi Pagi

kita baru sadar betapa berharganya sebuah kehadiran ketika sudah merasakan kehilangan.

Ungkapan perihal hidup hanya sementara agaknya sudah menjadi ungkapan sayuran kemarin sore yang rasanya kita semua sudah tau apa maknanya. Hingga kini, tak ada yang pernah tahu kapan dirinya tiba di sebuah akhir perjalanan, yang membuatnya lebih bisa menghargai waktu, memperbanyak memori baru, juga menjadikan setiap langkah sebagai acuan di kemudian hari sebagai pengingat tentang sebuah kenangan. Ada manusia yang percaya bahwa lembaran terakhir di hidupnya adalah tentang beranjak dewasa, tentang umur yang semakin lama semakin bertambah dan bertumbuh. Bertemu dengan masa di mana kulit mulai mengeriput, rambut mulai memutih, badan yang mulai bungkuk, juga langkah yang tak lagi bugar dari biasanya. Pagi ini aku masih bisa melihatmu berdiri di dapur, memasak makanan pembuka di pagi hari untuk kami. Lewat senyuman yang membuat matamu menyipit, aku menyadari bahwa waktu bergerak begitu cepat. Setengah abad sudah kau dan aku bernafas dari udara yang sama, bergerak di bawah langit yang sama, juga berteduh di bawah atap yang sama dari segala bising di luar sana. Segalanya, aku mengetahuinya. Sampai tiba di waktu sore, ketika aku melihatmu tertidur sangat nyenyak, dengan mata yang terpejam agak lama. Aku memandangimu, di dahimu masih terdapat peluh dari kegiatanmu beberapa menit yang lalu. Aku pikir kau hanya kelelahan, “tidurmu sangat nyenyak sekali, Bu” kataku saat itu. Hingga akhirnya satu persatu orang-orang mulai berdatangan, memelukku dan menangis sambil berkata, “Yang sabar ya, nak, Ibu udah nggak ada.”

Aku masih bisa memelukmu tadi pagi, masih bisa bercengkrama dan bercanda bersama. Bahkan di detik terakhir itu, kau masih makan bersamaku, duduk bersebelahan sambil berkata, “jangan makan pedas-pedas, nanti sakit perut.” Akan tetapi, tidak kusangka itu akan menjadi kalimatmu yang terakhir terucap untukku. Sebuah pesan yang terlihat sepele, namun besar maknanya bagiku.

Mungkin memang benar, kita tidak akan pernah tahu sampai sejauh mana kita berjalan, sampai umur berapa kita bertahan, dan kapan kita bertemu dengan akhir dari suatu perjalanan. Dari kepulanganmu yang tiba-tiba ini aku belajar betapa pentingnya menghargai setiap momen yang hadir dalam hidup. Terutama momen saat bersamamu. Kita terlalu banyak menghabiskan waktu sampai lupa bahwa waktu masih bergerak maju untuk menghabisi sisa umur di dunia. Sampai sebuah ungkapan basi kembali muncul, kita baru sadar betapa berharganya sebuah kehadiran ketika sudah merasakan kehilangan.  

_____

Terima kasih sudah membaca! ^^

What do you think?

Written by iiz

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Loading…

0

Membuka Diri Adalah Cara Awal Untuk Membangun Suatu Relasi

5 Rekomendasi Aplikasi Berguna Untuk Pelajar